Meredam Budaya Pesta Untuk Investasi Biaya Kuliah Anak

Beberapa hari lalu, setelah melewati liburan panjang saya kembali membuka Sistem Informasi Akademik (SIAKAD). Setelah scroll ke laman E-Office, saya mendapatkan surat cinta dari universitas tentang jadwal kegiatan akademik semester baru. Pada laman Dasboard terdapat tulisan “Anda belum membayar”. Seperti biasa, jadwal pembayaran UKT selalu berada di urutan pertama. Dapat diibaratkan, sebelum orang memulai langkah pertama, ia tentu tidak akan melanjut pada langkah kedua, tiga dan seterusnya. Baca juga: Mungkinkah Kampus “Merdeka” dari Scopus? Artinya, sebelum seorang mahasiswa membayar UKT, tentu ia tidak bisa melakukan KRS, apalagi mengikuti perkuliahan dan akhirnya ujian. 10.000.000 untuk UKT semester gasal ini. Itu pun karena saya termasuk mahasiswa lama yang masuk tahun sebelumnya. Sebagai mahasiswa jalur mandiri, saya harus membayar Rp. Ketika mencari informasi UKT mahasiswa baru (angkatan 2022), ternyata mengalami kenaikan sebesar Rp. 3.000.000, yakni dari Rp. Akankah biaya kuliah ini dapat terus meningkat pada tahun-tahun mendatang? Hasil riset Harian Kompas yang memprediksikan tentang lonjakan biaya kuliah yang tidak diseimbangi dengan pendapatan orangtua di masa yang akan datang, bisa saja akan benar-benar terjadi.

Bagi saya, yang lebih penting saat ini adalah bukan menaruh kekhawatiran pada masa depan, melainkan bagaimana mempersiapkan masa depan tersebut. Dalam arti, kita perlu mencari solusi atau upaya-upaya yang bisa dilakukan untuk mempersiapkan biaya kuliah anak di masa depan. Tentu hal ini pun perlu mendapat perhatian dan kebijakan dari pihak pemerintah. Amanat undang-undang agar “setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”, tidak akan terimplementasi dengan baik jika dihalangi oleh tingginya biaya kuliah, khususnya bagi masyarakat kecil. Terlepas dari catatan kritis pada pihak pemerintah atau pemangku kebijakan, dalam ulasan kali ini saya ingin memberikan titik fokus yang perlu diperhatikan oleh masyarakat. Apakah pesta budaya, harus dihilangkan? Tulisan senderhana ini, lebih merupakan refleksi kritis atas budaya pesta yang semakin marak terjadi akhir-akhir ini, di tanah kelahiran saya sendiri (NTT). Agar tidak menjadi salah tafsir antara pesta budaya dan budaya pesta, mari terlebih dahulu kita lihat perbedaan di antara keduanya! Dalam setiap budaya, ritual tradisional seringkali ditemukan. Apa kaitannya antara budaya pesta dengan biaya kuliah anak? Ritual tradisional itu dapat berupa perayaan-perayaan budaya, pesta budaya, dan festival-festival. Dalam pesta budaya, ada hal-hal penting yang mesti dipertunjukkan. Hal itu dibuat dengan tujuan-tujuan tertentu, baik untuk mempersatukan masyarakat, ucapan syukur, maupun rekonsiliasi setelah terjadi keregangan/perselisihan. Hal-hal tersebut antara lain, keterlibatan anggota masyarakat, penggunaan simbol-simbol budaya, ungkapan personal baik verbal maupun nonverbal. Semua itu disesuaikan dengan intensi acara adat yang dibuat. Walaupun pada umumnya, ritus yang dibuat biasanya memperkokoh kolektivitas dan kerukunan sosial. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Praktik ini umum ditemukan di berbagai negara di Afrika, Asia, dan Timur Tengah. Pemotongan kelamin biasanya dilakukan oleh penyunat tradisional menggunakan pisau dan dilakukan mulai dari beberapa hari setelah kelahiran hingga masa pubertas dan seterusnya. UNICEF memperkirakan pada tahun 2016 bahwa 200 juta wanita di 30 negara (27 negara Afrika, Indonesia, Kurdistan Irak, dan Yaman) telah menjalani prosedur ini. Cara pemotongan berbeda-beda menurut negara atau kelompok etnik, contohnya adalah penghilangan tudung klitoris dan glans klitoris; penghilangan labia bagian dalam; serta penghilangan labia bagian dalam dan bagian luar ditambah dengan penutupan vulva (infibulasi). Di separuh negara dengan ketersediaan data di tingkat nasional, sebagian besar pemotongan dilakukan ketika anak perempuan berusia di bawah lima tahun. Untuk metode infibulasi, sebuah lubang kecil disisakan untuk aliran urin dan cairan menstruasi; vagina kelak akan dibuka untuk hubungan intim dan dibuka lebih lanjut untuk melahirkan. Menurut pengkritik pemotongan kelamin perempuan, praktik ini berakar pada ketidaksetaraan gender, upaya untuk mengendalikan seksualitas perempuan, dan gagasan tentang kesucian, kesopanan, dan keindahan.

Pemotongan ini biasanya diprakarsai dan dilakukan oleh wanita yang menganggapnya perlu demi kehormatan dan juga atas dasar ketakutan bahwa anak perempuan yang tidak menjalani FGM akan dikucilkan secara sosial. Dampak buruk terhadap kesehatan tergantung pada metode yang dilakukan, contohnya adalah infeksi berulang, kesulitan buang air kecil dan pembuangan cairan menstruasi, nyeri kronis, perkembangan kista, ketidakmampuan untuk hamil, komplikasi saat melahirkan, dan perdarahan fatal. Tidak ada manfaat kesehatan FGM yang diketahui sejauh ini. Komunitas internasional telah berupaya sejak tahun 1970-an untuk meyakinkan masyarakat agar tidak mempraktikkan FGM. Praktik ini telah dilarang atau dibatasi di sebagian besar negara yang masyarakatnya menerapkan FGM, meskipun peraturan yang ada acap kali diabaikan. Sejak 2010, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menyerukan kepada para penyedia layanan kesehatan untuk berhenti melakukan segala bentuk FGM, termasuk reinfibulasi setelah melahirkan dan “penandaan” tudung klitoris secara simbolis. Perlawanan terhadap FGM juga dikritik, terutama dari kalangan antropolog yang mendasarkan argumen mereka pada relativisme budaya.

Hingga tahun 1980-an, FGM secara luas dikenal dalam bahasa Inggris sebagai sirkumsisi (sunat) perempuan, yang menyiratkan kesetaraan dengan sunat laki-laki. Sejak tahun 1929, Dewan Misionaris Kenya menyebutnya sebagai mutilasi seksual terhadap wanita, mengikuti arahan Marion Scott Stevenson, seorang misionaris Gereja Skotlandia. Istilah bahasa Inggris lainnya termasuk pemotongan kelamin wanita (female genital cutting, disingkat FGC) dan mutilasi/pemotongan genital wanita (female genital mutilation/cutting, disingkat FGM/C), lebih disukai oleh mereka yang bekerja bersama praktisi. Di negara-negara yang umum mempraktikkan FGM, ada banyak varian praktik yang tecermin dalam lusinan istilah, yang sering merujuk pada pemurnian. Fran Hosken, seorang penulis feminis Austria-Amerika, menyebutnya sebagai mutilasi di Laporan Hosken: Mutilasi Kelamin dan Seksual terhadap Perempuan, karyanya yang berpengaruh. Igbo di Nigeria bagian timur sebagai isa aru atau iwu aru (“sedang mandi”). Istilah lain termasuk khifad, tahur, quodiin, irua, bondo, kuruna, negekorsigin, dan kene-kene. Istilah bahasa Arab yang umum untuk pemurnian memiliki akar t-h-r, yang digunakan untuk sunat laki-laki dan perempuan (tahur dan tahara).

Jika Anda menyukai posting ini dan Anda ingin mendapatkan lebih banyak fakta tentang mpo times silakan menelusuri situs web kami.